Gerah sama pembantu sebelah rumah. Orang jawa. Katanya tinggal lama di Malaysia. Logat melayunya jadi kental banget. Lemah gemulai Jawa-nya ga lagi terlihat. Berganti teriak lantang. Macam bicara sama orang tuli aja. Saya mendengar pembicaraan dia dengan seorang pria. Mungkin teman Malaysia-nya. Saya memprediksi, pria inilah yang membantu dia mengenalkan pada majikan-majikan di negeri tetangga itu. Ergh, beginilah Indonesia. Tak pelak kalau dicakap negeri pembantu.
Kalau dikenal sebagai negeri pembantu saja, tentu saya tak berbangga sama sekali. Apalagi kalau lihat berita banyak tenaga kerja kita dipaket pulang dalam keadaan memar-memar. Sukur paketnya masih pakai pesawat, bukan pakai peti kayu.
Kenapa sebelum mereka di kirim ke luar negeri mereka tak hendak sedikit aja belajar. Sedikitnya, kalau mereka punya kelebihan selain keterampilan membersihkan rumah, mereka punya nilai lebih dibandingkan teman-teman seprofesinya. Kemungkinan mereka untuk dibodohi atau dianiaya pun semakin kecil.
Kalau saya jadi menteri tenaga kerjanya, saya akan mengadakan persyaratan khusus bagi tenaga kerja yang ingin mencari peruntungan ke luar negeri. Kalau standarnya, yaa minimal TOEFL/IELTS. Saya serius. Saya ga rela kalau malayers2 itu *sebenerny mo pake sebutan m**on cm ga enak* memandang orang kita bodoh. Minimal TOEFL 450 atau IELTS 4. ga peduli ijazah. Kalo emang ada yang cuma lulusan SD dan bisa tembus nominal itu, ya go ahead. Cara ini sekaligus memberantas orang buta huruf yang coba-coba lolos, hahaha.
Saya akan membunuh agen penyalur pembantu secara perlahan. Atas nama Departemen Tenaga Kerja yang saya pegang, saya akan muncul sebagai agen kompetitor. Biar menang, tentu saya akan menggunakan kedutaan negara setempat. Kedutaan tentu akan lebih takut sama instansi negara ketimbang agen kacangan, kan?
Saya akan memperkenalkan sampel ‘pekerja lolos uji’ ala saya ke orang mereka. Jika mereka puas, maka saya akan meminta mereka untuk merekomendasikan agen saya pada penduduk-penduduk di negara mereka. Ah, andai saja..
Minggu, 27 Desember 2009
andai...
Diposting oleh aninditta syarif di 08.15
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar